Senin, 18 Agustus 2014

Impianku

Assalammu'alaikum wr.wb.

    Namaku Nada Afifah Gomiyati. Usiaku sekarang masih 15 tahun. Beberapa hari lagi 16 tahun. Umur yang cukup untuk memikirkan masa depan. Sewaktuku kecil, aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang dokter yang menolong orang-orang. Tetapi, semenjak ku dewasa aku mulai berpikir aku ingin sekali menjadi dokter hebat yang dikenal semua orang dan mempunyai rumah sakit sendiri yang besar. Aku berharap dapat membantu kesehatan di Indonesia. Aku ingin rumah sakit di Indonesia bisa hebat atau bahkan lebih hebat dari rumah sakit di negara lain. Dimana terdapat banyak sekali peralatan canggih. Dan jelas dengan semua itu aku pun ingin mempunyai rumah yang besar tetapi, tidak tingkat. Karena, aku ingin keluargaku dapat berkumpul setiap harinya. Rumahku akan sangat luas dan banyak kamar yang cukup untuk orang tuaku l, keluargaku, beserta keluarga adikku kelak. Rumahkupun akan mempunyai taman yang indah agar kedua orangtuaku dapat bersantai menikmati masa tuanya dengan bahagia. Dan aku pun ingin menaikkan orang tuaku, aku, dan adikku haji. Amin
     Tersadar dari semua lamunanku, aku ingat dalam mencapai suatu keinginam banyak hal yang harus kita perjuangkan. Sebagai seorang pelajar yang dapat ku lakukan adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat untuk mencapai cita-citaku. Banyak sekali hambatan dalam mencapai keinginanku seperti rasa malas belajar yang memang penyakit seorang pelajar. Ditambah dengan telepon genggam yang canggih. Itu memang hambatan yang sangat mengganggu. Terkadang ingin sekali aku hidup di masa lalu. Yang belum ada apa-apa. Namun, aku pun ingat jika tidak ada apa-apa bagaimana aku bisa belajar dan menjadi orang sukses yang membanggakan orang tua. Dari segala hambatan itu, aku percaya apa yang kita yakini itu akan tercapai jika ada usaha. Saya mulai mencoba menjauhi rasa malas dan telepon genggam. Dan aku akan tetap bersemangat karena kedua orangtuaku pasti ingin suatu saat nanti aku menjadi orang sukses yang dapat membanggakan mereka.
     Dilain hal ada hambatan lain dalam mencapai cita-citaku. Keinginan kedua orangtuaku untuk menyekolahkanku di STPI Curug. Mereka berpikir, jika aku kuliah disana kerjaanku pasti jelas san biayapun lebih murah dibanding aku sekolah di PTN. Terlintas dibenakku, jadi dokter harus otopsi mayat. Wah, itu sangat tidak mengasyikan bahkan menyeramkan. Bagaimana aku bisa jadi dokter jika aku takut tes akhirnya nanti. Itu hambatan paling sulit kurasa. Seandainya menjadi dokter tidak harus melakukan itu betapa senangnya diriku. Tetapi, sekarang aku mungkin lebih memilih untuk terus membuat bangga kedua orangtuaku. Terkadang aku berpikir jalani saja kehidupan ini, belajar saja dengan tekun dan raih prestasi serta meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah swt. untuk dimudahkan dalam segala hal. Apapun yang terjadi nanti, aku jadi dokter, atau yang lainnya. Aku yakin, jika aku giat sekarang masa depanku akan sukses.
Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar